Purbaya: Stimulus Diskon Transportasi Diproyeksikan Tingkatkan Ekonomi Indonesia Kuartal I 2026

Jumat, 13 Februari 2026 | 10:43:58 WIB
Purbaya: Stimulus Diskon Transportasi Diproyeksikan Tingkatkan Ekonomi Indonesia Kuartal I 2026

JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keyakinannya bahwa perekonomian Indonesia akan mencatat pertumbuhan positif pada kuartal pertama tahun 2026, dengan proyeksi mencapai angka 5,6 persen. Optimisme ini terutama didorong oleh kebijakan stimulus berupa diskon tarif transportasi publik yang diterapkan selama periode libur Hari Besar Nasional (HBN) Idul Fitri 2026.

Langkah ini dinilai pemerintah bukan hanya sekadar insentif jangka pendek, tetapi juga momentum strategis untuk meningkatkan mobilitas masyarakat, konsumsi, dan kegiatan ekonomi secara luas di berbagai sektor.

Optimisme Pertumbuhan Ekonomi di Awal Tahun

Purbaya menjelaskan bahwa kebijakan diskon transportasi diperkenalkan untuk menarik aktivitas ekonomi di berbagai wilayah Indonesia. Ia menyatakan bahwa diskon tersebut dirancang agar masyarakat terdorong untuk lebih banyak melakukan perjalanan selama periode libur panjang, sehingga rantai konsumsi dan permintaan meningkat di banyak sektor.

Stimulasi ini dianggap sebagai kelanjutan dari langkah kebijakan serupa pada periode libur sebelumnya, di mana dampaknya terlihat positif terhadap mobilitas dan kegiatan ekonomi. Sebagai contoh, pada perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, mobilitas masyarakat meningkat secara signifikan dan hal itu berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi hingga mencapai 5,39 persen pada kuartal keempat tahun lalu.

“Kalau pertumbuhan ekonomi kuartal I proyeksinya 5,6 persen kira-kira,” ujar Purbaya saat ditemui wartawan di Jakarta, Kamis.

Rincian Insentif Diskon Transportasi

Pemerintah telah menyiapkan berbagai bentuk diskon tarif untuk moda transportasi selama periode HBN Idul Fitri 2026 dengan total anggaran mencapai Rp911,16 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun sumber non-APBN.

Untuk angkutan kereta api, pemerintah memberikan diskon tarif sebesar 30 persen dari harga tiket yang disediakan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau PT KAI. Diskon ini berlaku untuk periode perjalanan 14 sampai 29 Maret 2026 dengan target layanan kepada sekitar 1,2 juta penumpang.

Begitu pula pada moda transportasi laut, diskon 30 persen juga diberikan pada tarif dasar tiket oleh PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau Pelni. Periode diskon bagi pengguna kapal laut ini dimulai sejak 11 Maret hingga 5 April 2026 dan ditargetkan menjangkau sekitar 445 ribu penumpang.

Selain itu, untuk layanan penyeberangan oleh PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), pemerintah menetapkan diskon 100 persen untuk komponen jasa kepelabuhanan. Program ini berlaku antara 12 hingga 31 Maret 2026 dengan target mencapai 945.000 unit kendaraan dan 2,4 juta penumpang.

Untuk angkutan udara domestik kelas ekonomi, diskon tarif juga disediakan dalam kisaran 17 hingga 18 persen sepanjang periode 14 hingga 29 Maret 2026 dengan target sekitar 3,3 juta penumpang.

Momentum Ekonomi dan Dampak Jangka Panjang

Pemerintah melihat bahwa insentif ini tidak hanya berdampak pada peningkatan penggunaan transportasi, tetapi juga berpotensi mempercepat laju perekonomian secara umum. Kenaikan mobilitas di masa liburan sering kali memicu interaksi ekonomi di sektor pariwisata, perdagangan, layanan, dan komunitas usaha kecil di seluruh Indonesia.

Stimulus yang dirancang seiring libur nasional diproyeksikan mampu menarik permintaan dan konsumsi yang lebih besar di luar pusat-pusat ekonomi utama, termasuk daerah-daerah yang selama ini kurang tersentuh oleh arus mobilitas massa.

Purbaya sendiri telah beberapa kali memunculkan pandangan positif terkait kondisi ekonomi, termasuk pernyataannya pada masa sebelumnya tentang kemungkinan pertumbuhan di kuartal kuartal lain seperti kuartal IV 2025 yang memberi sinyal perbaikan dari pencapaian triwulan sebelumnya.

Tantangan dan Realisasi Kebijakan

Walaupun proyeksi pertumbuhan di awal tahun terlihat optimistis, pemerintah tetap menghadapi tantangan dalam memastikan realisasi kebijakan dan dampaknya terhadap ekonomi riil. Beberapa pihak menilai bahwa stimulasi semacam diskon dan insentif sektor transportasi harus disertai dengan dukungan melalui peningkatan daya beli masyarakat serta pelaku usaha agar efek pengganda ekonomi lebih kuat.

Kebijakan fiskal seperti pemberian diskon transportasi menjadi salah satu bentuk intervensi jangka pendek. Namun, pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan juga perlu ditopang oleh fundamental makro yang solid, termasuk penguatan konsumsi domestik, peningkatan investasi, dan stabilitas sektor keuangan.

Dengan berbagai upaya yang dilakukan pemerintah melalui kebijakan stimulus ini, optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal pertama mencapai 5,6 persen menjadi gambaran dari strategi yang dirancang untuk mendukung momentum pemulihan ekonomi nasional sepanjang tahun 2026.

Terkini