BURSA

Bursa Asia Terkoreksi, Teknologi Menjadi Biang Kerok Setelah Rekor Pasar Tak Berlanjut

Bursa Asia Terkoreksi, Teknologi Menjadi Biang Kerok Setelah Rekor Pasar Tak Berlanjut
Bursa Asia Terkoreksi, Teknologi Menjadi Biang Kerok Setelah Rekor Pasar Tak Berlanjut

JAKARTA - Bursa saham Asia mengalami koreksi pada perdagangan Jumat pagi, turun dari level tertinggi yang dicapai sehari sebelumnya, setelah sektor teknologi menjadi sorotan utama tekanan pasar global. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang melemah sekitar 0,6%, memangkas sebagian dari keuntungan mingguan yang sebelumnya mencapai lebih dari 4 persen. Melansir dari laporan Reuters, aksi jual ini terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap prospek saham teknologi yang sebelumnya mengangkat pasar ke rekor baru.

Tekanan Teknis Setelah Rekor Pasar

Setelah reli tajam yang mendorong indeks utama di beberapa bursa Asia seperti Nikkei dan indeks saham negara berkembang, gelombang jual datang ketika investor menilai kembali valuasi tinggi di sektor teknologi, khususnya saham yang didorong oleh ekspektasi terhadap kecerdasan buatan (AI). Koreksi ini mencerminkan rotasi dari aset berisiko tinggi seperti saham teknologi menuju aset yang dianggap lebih aman, seperti obligasi pemerintah. Sejumlah analis menyebut bahwa penurunan ini lebih merupakan penyesuaian teknis pasar pasca–pencapaian rekor, daripada pertanda fundamental ekonomi yang memburuk.

Sebelumnya pada Rabu (11/2), bursa Asia mencatat rekor tertinggi, didukung oleh lonjakan indeks saham di Korea Selatan dan Taiwan yang masing‑masing mencatatkan penguatan signifikan. Namun momentum optimisme tersebut tak bertahan lama karena tekanan dari luar negeri mulai terasa.

Saham Teknologi Jadi Sorotan Utama

Tekanan pada saham teknologi global di Wall Street turut memengaruhi pasar Asia. Indeks saham di Amerika Serikat yang didominasi oleh perusahaan teknologi mencatat penurunan, seiring kekhawatiran bahwa biaya investasi besar di sektor AI akan menekan margin keuntungan. Hilangnya sentimen positif ini membuat saham seperti milik beberapa raksasa teknologi AS melemah cukup tajam, yang kemudian menular ke perdagangan Asia.

Koreksi ini juga berdampak pada bursa utama di kawasan. Pasar saham Jepang serta indeks di Hong Kong dan Seoul menurun dari posisi tertinggi sebelumnya, menunjukkan bahwa tekanan global terhadap saham teknologi turut mempengaruhi pergerakan indeks regional. Penurunan di sektor ini memicu rotasi modal investor dari saham berisiko tinggi ke instrumen yang dinilai lebih stabil.

Investor Asing Menarik Dana dari Saham Asia

Data terbaru juga menunjukkan bahwa investor asing menarik dana secara signifikan dari pasar saham Asia dalam beberapa pekan terakhir. Pada pekan pertama Februari, nilai penjualan bersih asing mencapai hampir US$10 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan total penjualan bersih sepanjang bulan Januari. Penurunan ini terutama terlihat di pasar Korea Selatan dan Taiwan, yang mengalami tekanan signifikan pada saham teknologi.

Sebaliknya, beberapa negara seperti India justru mencatat aliran modal masuk yang relatif lebih baik. Hal ini menurut analis menunjukkan bahwa investor mengambil langkah diversifikasi, beralih dari pasar yang sangat bergantung pada saham teknologi besar ke pasar yang menawarkan prospek stabilitas lebih tinggi, terutama setelah kesepakatan perdagangan yang mengurangi tarif terhadap barang‑barang India.

Pergerakan Aset Lainnya: Obligasi dan Komoditas

Koreksi di pasar saham juga mendorong pergerakan di pasar obligasi dan komoditas. Imbal hasil surat utang pemerintah Amerika Serikat (Treasury) turun, menunjukkan minat investor pada aset safe haven di tengah gejolak pasar saham. Penurunan yield ini terjadi di berbagai tenor, terutama pada obligasi jangka menengah dan panjang, mencerminkan ekspektasi terhadap perlambatan suku bunga acuan di masa mendatang.

Sementara itu, harga emas dan logam mulia lainnya menunjukkan gejolak relatif kecil, dengan beberapa logam berusaha memantul setelah sebelumnya mengalami tekanan akibat perubahan selera risiko investor. Meskipun demikian, pasar komoditas masih mencerminkan ketidakpastian yang sama yang mendorong investor untuk mencari aset yang lebih aman.

Prospek Bursa Asia ke Depan

Melihat pergerakan indeks dan sentimen investor saat ini, analis pasar menyatakan bahwa koreksi ini kemungkinan merupakan penyesuaian pasar setelah reli tajam yang terjadi sebelumnya. Adanya kekhawatiran tentang valuasi dan dampak biaya investasi teknologi yang tinggi dinilai akan terus memengaruhi pergerakan pasar jika data ekonomi global tidak memberikan sinyal positif yang kuat.

Beberapa pelaku pasar kini mengamati data inflasi AS yang akan dirilis dalam waktu dekat sebagai salah satu faktor penentu arah pasar selanjutnya. Jika angka inflasi menunjukkan tren penurunan, harapan terhadap penurunan suku bunga acuan bisa kembali hidup, yang berpotensi meredakan tekanan di pasar saham Asia.

Dalam jangka pendek, investor diperkirakan akan tetap berhati‑hari, terutama dalam menilai saham berisiko tinggi di tengah ketidakpastian kebijakan moneter global dan kemungkinan perubahan sentimen pasar yang cepat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index